Perkembangan iLmu

Perkembangan iLmu

Sejak awal kelahirannya, islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagai mana sudah diketahui, bahwa Nabi Muhammad SAW. Ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat yang terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada masyarakat arab pada masa itu.

Dalam perjalanan ilmu dan juga filsafat di dunia islam, pada dasarnya terdapat upaya rekonsiliasi dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda, bahkan seringkali ekstrim antara pandangan filsafat Yunani, seperti filsafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan keagamaan dalam islam yang seringkali menimbulkan benturan-benturan. Sebagai contoh konkrit dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh besar pada mazhab-mazhab islam, khususnya mazhab eklektisisme. Al-Farabi, dalam hal ini, memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Bahkan bias dikatakan para filosof muslim mulai dari Al-Kindi sampai Ibnu Rusyd terlibat dalam upaya rekonsiliasi tersebut, dengan cara mengemukakan pandangan-pandangan yang relative baru dan menarik.

Selain itu, pada masa ini juga didapati pusat-pusat ilmu pengetahuan seperti Ariokh, Ephesus, dan Iskandariah, dimana buku-buku Yunani purba masih dibaca dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, terutama siriani, bahkan setelah pusat-pusat itu ditaklukkan oleh umat islam, pengaruh pemikiran Yunani tetap mendalam dan meluas.