Guestbook

Date 15/02/2012

By Portal BMH

Subject http://www.portalbmh.com/

Reply

Kami tunggu artikel-artikel bagus selanjutnya

Date 19/07/2011

By dollarmu

Subject salam kenal

Reply

salam kenal semua
blognya bagus tambah bagus kalau visit di mari http://dollarmu.webnode.com/

Date 07/04/2010

By Kunarso

Subject SERAGAM KORPRI

Reply

Baju seragam KORPRI kembali menjadi perbincangan hangat terkait dengan adanya isu yang beredar di masyarakat dan media massa tentang adanya penggantian baju seragam KORPRI. Dewan Pimpinan Nasional KORPRI menyikapinya dengan mengirim Surat Edaran yang ditujukan ke Dewan Pengurus KORPRI Provinsi dan Kabupaten yang menegaskan bahwa tidak ada perubahan baju seragam KORPRI. Disisi lain jika diberikan kesempatan untuk memilih, adalah logis jika anggota akan memilih BAJU SERAGAM KORPRI DENGAN MOTIF YANG PENUH ARTI, silahkan baca berikut ini:

MENCERMATI SERAGAM BARU KORPRI
Dari Perisai Garuda Tanpa Bintang sampai dengan Tata Letak Daun Berkarang
Oleh Kunarso (Pemerhati Lambang dan Simbol).

TELAH dua kali baju seragam KORPRI mengalami perubahan, hal ini tak lepas dari keinginan organisasi pegawai ini untuk semakin mandiri, maju dan berkembang.

Perubahan pertama pada tahun sembilan puluhan, baju seragam KORPRI yang semula didominasi warna biru dengan gambar rumah di bawah pohon beringin diganti dengan gambar Punokawan yaitu tokoh wayang yang kerjaannya banyak bergurau, serta gambar monyet di hutan. Protes pun bermunculan, sehingga pencetakan kain seragam yang telah dikontrakkan ke Koperasi Batik di Jawa Tengah terpaksa dibatalkan. Koperasi pun dirugikan. Seragam KOPRI lama digunakan lagi. Kini kembali, baju seragam KORPRI mengalami perubahan. Tak jauh beda dengan perubahan yang pertama, perubahan yang kedua inipun mulai terdengar adanya berbagai komentar. Bahkan berita di berbagai media nusantara tak melewatkan tentang adanya reaksi terhadap pembuatan seragam KORPRI yang baru. Di Jawa, seorang Walikota marah karena untuk pembuatan seragam baru membebani anggota KORPRI dengan memotong gaji.

Menyoal Arti Gambar

Dari pengalaman yang cermat terhadap seragam KORPRI yang baru, tidak mustahil timbul berbagai pertanyaan mendasar tentang arti dan maksud gambar yang ada. Pertanyaan itu adalah wajar, karena sebagian anggota KORPRI masih memiliki jati diri dan tidak mudah untuk mau memakai simbol-simbol yang tidak dimengerti. Apalagi jika mengandung simbol yang bertentangan dengan hati nurani.

Apalagi adanya pergantian seragam ini tidak diawali dengan sosialisasi. Alangkah indahnya, jika rencana perubahan motif seragam didahului dengan menggali masukan dari anggota jika perlu diseminarkan dulu agar ada koreksi bila ada kekeliruan.

Perisai Tanpa Bintang

Apabila dicermati, yang terlihat dari seragam baru KORPRI yaitu adanya gambar Burung Garuda, daun-daunan dan garis saling menyilang.

Berbeda dengan Garuda Pancasila Lambang Negara Indonesia, perisai yang tergantung di leher Garuda pada seragam baru KORPRI ternyata kosong, tanpa ada gambarnya, baik bintang, beringin, kepala banteng, rantai maupun padi dan kapas yang sebelumnya dipahami sebagai simbol dari Pancasila. Belum ada penjelasan tentang hilangnya gambar yang menjadi simbol negara itu dari perisai Garuda seragam baru KORPRI, apakah memang demikian menurut keputusan, ataukah ada kesalahan di pencetakan. Mungkinkah hilangnya gambar itu karena diambil untuk menjadi lambang oleh berbagai Partai Peserta Pemilu 2004, atau memang KORPRI yang baru telah demikian berani untuk menyatakan bahwa lambang itu tidak perlu lagi sehingga merasa tidak peduli dan membiarkannya hilang dari dada anggota KORPRI.

Tentang hilangnya gambar bintang dari perisai Burung Garuda, bukan baru kali ini penulis jumpai. Pada tanggal 15 November tahun 2000, ketika Menhutbun saat itu Dr Nur Mahmudi Ismail berada di Gedung Kehutanan, jalan Kusuma Bangsa Samarinda menghadiri suatu acara, segenap undangan yang hadir sempat tertegun saat seorang peserta memberi informasi yang dinilai amat penting sebelum bertanya. Informasi yang disampaikan adalah bahwa pada saat MPR masih terus bersidang menyiapkan amandemen UUD tidak terkecuali membahas dengan hati-hati yang berkaitan dengan lambang negara, ternyata di daerah sudah jauh lebih maju seperti yang terlihat di belakang Bapak Menteri, lambang Burung Garuda itu tanpa bintang.

Bunga Liar Biasa di Belukar

Tentang gambar daun, belum juga ada penjelasan daun apa gerangan sehingga patut dibanggakan dan ditempel di seragam KORPRI untuk dipakai dan dibawa mondar-mandir oleh anggotanya. Alangkah baiknya apabila lambang daun yang dimaksud adalah lambang daun dari tumbuhan produktif dan bernilai tinggi. Jika demikian akan dapat menggambarkan keinginan organisasi ini agar anggotanya mempunyai jiwa yang mulia dan bermanfaat untuk kemajuan negeri. Sebaliknya apabila ternyata bahwa lambang daun itu adalah daun tumbuhan liar, maksimal manfaat yang diperoleh adalah sekadar hiasan penyejuk pemandangan jika dipindah di halaman depan rumah.

Jika memang tumbuhan ini yang dimaksud, lalu apa gerangan yang dibanggakan dan diambil motivasi sehingga perlu menempel terus di baju seragam KORPRI?

Dari tata letak daun, identifikasi suatu tanaman dapat dilakukan. Diketahui ada tumbuhan yang setiap buku batangnya hanya terdapat satu daun saja, ada tumbuhan yang setiap buku batangnya terdapat dua daun yang berhadapan dan ada pula tumbuhan yang setiap buku batangnya terdapat lebih dari dua daun.

Tumbuhan yang pada setiap buku batangnya hanya terhadap satu daun dikatakan bahwa tata letak daun yang demikian dinamakan tersebar (folio sparsa). Walaupun dinamakan tersebar, tetapi jika diteliti justru akan kita jumpai hal-hal yang sangat menarik, dan akan ternyata bahwa ada hal-hal yang bersifat beraturan. Dalam hal ini ada rumus daun, sudut divergensi dan deret Fibonacci. Pada berbagai tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang-kadang kelihatan daun-daun yang duduk daunnya rapat berjejal-jejal, yaitu jika ruas batangnya amat pendek. Daun yang mempunyai susunan demikian disebut roset (rosula). Ada roset akar, yang berjejal di dekat tanah, misalnya pada lobak (Raphanus sativus L), dan ada roset batang yang rapat berjejal di ujung batang, misalnya pohon kelapa (Cocos nucifera L).

Tumbuhan yang pada setiap buku batangnya terdapat dua daun, letaknya berhadapan (terpisah dengan jarak sebesar 180 derajat) dinamakan tata letak daun berhadapan-bersilang (folio opposita), misalnya pada mengkudu (Morinda citrifolia L).

Sedangkan tumbuhan yang pada setiap bukunya terdapat lebih dari dua daun dinamakan tata letak daun berkarang (folio verticillata).

Gambar daun yang terdapat pada baju seragam KORPRI rupanya termasuk tata letak daun berkarang, yaitu pada satu buku batang terhadap lebihd ari dua helai daun, atau tepatnya ada empat helai daun. Daun tumbuhan apakah ada yang demikian, setelah penulis mencoba mencari ternyata tata letak daun yang demikian terdapat pada tumbuhan liar yang sering tumbuh di belukar, berbunga kuning, indah memang, tetapi banyak bergetah.

Dambakan KORPRI yang Lurus

Dambaan untuk menjadikan KORPRI dimasa depan menjadi organisasi mandiri yang bersih dan lurus terkandung dalam sambutan Presiden Megawati pada saat Hari Ulang Tahun KORPRI bulan Desember 2003. Diharapkan silang melintang perjalanan KORPRI dimasa lalu yang sering terbawa oleh arus politik saat itu, tidak terulang lagi dimasa yang akan datang, karena jika terus demikian bukan saja merugikan anggotanya tetapi juga merugikan bangsa dan negara. Akan tetapi jika kembali mencermati seragam baru KORPRI, ternyata garis silang melintang amat sangat nyata mendominasi. Akankah suasana silang melintang nantinya masih mewarnai kelanjutan perjalanan KORPRI? Bolehlah kalau kita berharap agar hal itu tidak terjadi.(***)

pernah di postkan di Kaltim Post Jumat, 23 Januari 2004

Date 07/04/2010

By Kunarso

Subject SERAGAM KORPRI

Reply

Baju seragam KORPRI kembali menjadi perbincangan hangat terkait dengan adanya isu yang beredar di masyarakat dan media massa tentang adanya penggantian baju seragam KORPRI. Dewan Pimpinan Nasional KORPRI menyikapinya dengan mengirim Surat Edaran yang ditujukan ke Dewan Pengurus KORPRI Provinsi dan Kabupaten yang menegaskan bahwa tidak ada perubahan baju seragam KORPRI. Disisi lain jika diberikan kesempatan untuk memilih, adalah logis jika anggota akan memilih BAJU SERAGAM KORPRI DENGAN MOTIF YANG PENUH ARTI, silahkan baca berikut ini:

MENCERMATI SERAGAM BARU KORPRI
Dari Perisai Garuda Tanpa Bintang sampai dengan Tata Letak Daun Berkarang
Oleh Kunarso (Pemerhati Lambang dan Simbol).

TELAH dua kali baju seragam KORPRI mengalami perubahan, hal ini tak lepas dari keinginan organisasi pegawai ini untuk semakin mandiri, maju dan berkembang.

Perubahan pertama pada tahun sembilan puluhan, baju seragam KORPRI yang semula didominasi warna biru dengan gambar rumah di bawah pohon beringin diganti dengan gambar Punokawan yaitu tokoh wayang yang kerjaannya banyak bergurau, serta gambar monyet di hutan. Protes pun bermunculan, sehingga pencetakan kain seragam yang telah dikontrakkan ke Koperasi Batik di Jawa Tengah terpaksa dibatalkan. Koperasi pun dirugikan. Seragam KOPRI lama digunakan lagi. Kini kembali, baju seragam KORPRI mengalami perubahan. Tak jauh beda dengan perubahan yang pertama, perubahan yang kedua inipun mulai terdengar adanya berbagai komentar. Bahkan berita di berbagai media nusantara tak melewatkan tentang adanya reaksi terhadap pembuatan seragam KORPRI yang baru. Di Jawa, seorang Walikota marah karena untuk pembuatan seragam baru membebani anggota KORPRI dengan memotong gaji.

Menyoal Arti Gambar

Dari pengalaman yang cermat terhadap seragam KORPRI yang baru, tidak mustahil timbul berbagai pertanyaan mendasar tentang arti dan maksud gambar yang ada. Pertanyaan itu adalah wajar, karena sebagian anggota KORPRI masih memiliki jati diri dan tidak mudah untuk mau memakai simbol-simbol yang tidak dimengerti. Apalagi jika mengandung simbol yang bertentangan dengan hati nurani.

Apalagi adanya pergantian seragam ini tidak diawali dengan sosialisasi. Alangkah indahnya, jika rencana perubahan motif seragam didahului dengan menggali masukan dari anggota jika perlu diseminarkan dulu agar ada koreksi bila ada kekeliruan.

Perisai Tanpa Bintang

Apabila dicermati, yang terlihat dari seragam baru KORPRI yaitu adanya gambar Burung Garuda, daun-daunan dan garis saling menyilang.

Berbeda dengan Garuda Pancasila Lambang Negara Indonesia, perisai yang tergantung di leher Garuda pada seragam baru KORPRI ternyata kosong, tanpa ada gambarnya, baik bintang, beringin, kepala banteng, rantai maupun padi dan kapas yang sebelumnya dipahami sebagai simbol dari Pancasila. Belum ada penjelasan tentang hilangnya gambar yang menjadi simbol negara itu dari perisai Garuda seragam baru KORPRI, apakah memang demikian menurut keputusan, ataukah ada kesalahan di pencetakan. Mungkinkah hilangnya gambar itu karena diambil untuk menjadi lambang oleh berbagai Partai Peserta Pemilu 2004, atau memang KORPRI yang baru telah demikian berani untuk menyatakan bahwa lambang itu tidak perlu lagi sehingga merasa tidak peduli dan membiarkannya hilang dari dada anggota KORPRI.

Tentang hilangnya gambar bintang dari perisai Burung Garuda, bukan baru kali ini penulis jumpai. Pada tanggal 15 November tahun 2000, ketika Menhutbun saat itu Dr Nur Mahmudi Ismail berada di Gedung Kehutanan, jalan Kusuma Bangsa Samarinda menghadiri suatu acara, segenap undangan yang hadir sempat tertegun saat seorang peserta memberi informasi yang dinilai amat penting sebelum bertanya. Informasi yang disampaikan adalah bahwa pada saat MPR masih terus bersidang menyiapkan amandemen UUD tidak terkecuali membahas dengan hati-hati yang berkaitan dengan lambang negara, ternyata di daerah sudah jauh lebih maju seperti yang terlihat di belakang Bapak Menteri, lambang Burung Garuda itu tanpa bintang.

Bunga Liar Biasa di Belukar

Tentang gambar daun, belum juga ada penjelasan daun apa gerangan sehingga patut dibanggakan dan ditempel di seragam KORPRI untuk dipakai dan dibawa mondar-mandir oleh anggotanya. Alangkah baiknya apabila lambang daun yang dimaksud adalah lambang daun dari tumbuhan produktif dan bernilai tinggi. Jika demikian akan dapat menggambarkan keinginan organisasi ini agar anggotanya mempunyai jiwa yang mulia dan bermanfaat untuk kemajuan negeri. Sebaliknya apabila ternyata bahwa lambang daun itu adalah daun tumbuhan liar, maksimal manfaat yang diperoleh adalah sekadar hiasan penyejuk pemandangan jika dipindah di halaman depan rumah.

Jika memang tumbuhan ini yang dimaksud, lalu apa gerangan yang dibanggakan dan diambil motivasi sehingga perlu menempel terus di baju seragam KORPRI?

Dari tata letak daun, identifikasi suatu tanaman dapat dilakukan. Diketahui ada tumbuhan yang setiap buku batangnya hanya terdapat satu daun saja, ada tumbuhan yang setiap buku batangnya terdapat dua daun yang berhadapan dan ada pula tumbuhan yang setiap buku batangnya terdapat lebih dari dua daun.

Tumbuhan yang pada setiap buku batangnya hanya terhadap satu daun dikatakan bahwa tata letak daun yang demikian dinamakan tersebar (folio sparsa). Walaupun dinamakan tersebar, tetapi jika diteliti justru akan kita jumpai hal-hal yang sangat menarik, dan akan ternyata bahwa ada hal-hal yang bersifat beraturan. Dalam hal ini ada rumus daun, sudut divergensi dan deret Fibonacci. Pada berbagai tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang-kadang kelihatan daun-daun yang duduk daunnya rapat berjejal-jejal, yaitu jika ruas batangnya amat pendek. Daun yang mempunyai susunan demikian disebut roset (rosula). Ada roset akar, yang berjejal di dekat tanah, misalnya pada lobak (Raphanus sativus L), dan ada roset batang yang rapat berjejal di ujung batang, misalnya pohon kelapa (Cocos nucifera L).

Tumbuhan yang pada setiap buku batangnya terdapat dua daun, letaknya berhadapan (terpisah dengan jarak sebesar 180 derajat) dinamakan tata letak daun berhadapan-bersilang (folio opposita), misalnya pada mengkudu (Morinda citrifolia L).

Sedangkan tumbuhan yang pada setiap bukunya terdapat lebih dari dua daun dinamakan tata letak daun berkarang (folio verticillata).

Gambar daun yang terdapat pada baju seragam KORPRI rupanya termasuk tata letak daun berkarang, yaitu pada satu buku batang terhadap lebihd ari dua helai daun, atau tepatnya ada empat helai daun. Daun tumbuhan apakah ada yang demikian, setelah penulis mencoba mencari ternyata tata letak daun yang demikian terdapat pada tumbuhan liar yang sering tumbuh di belukar, berbunga kuning, indah memang, tetapi banyak bergetah.

Dambakan KORPRI yang Lurus

Dambaan untuk menjadikan KORPRI dimasa depan menjadi organisasi mandiri yang bersih dan lurus terkandung dalam sambutan Presiden Megawati pada saat Hari Ulang Tahun KORPRI bulan Desember 2003. Diharapkan silang melintang perjalanan KORPRI dimasa lalu yang sering terbawa oleh arus politik saat itu, tidak terulang lagi dimasa yang akan datang, karena jika terus demikian bukan saja merugikan anggotanya tetapi juga merugikan bangsa dan negara. Akan tetapi jika kembali mencermati seragam baru KORPRI, ternyata garis silang melintang amat sangat nyata mendominasi. Akankah suasana silang melintang nantinya masih mewarnai kelanjutan perjalanan KORPRI? Bolehlah kalau kita berharap agar hal itu tidak terjadi.(***)

pernah di postkan di Kaltim Post Jumat, 23 Januari 2004

Date 03/03/2010

By Kunarso

Subject PEMBANGUNAN KEBUN KELAPA SAWIT PKPRI KALTIM

Reply

PEMBANGUNAN KEBUN KELAPA SAWIT PUSAT KOPERASI PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA KALTIM

A. PENDAHULUAN
Pembangunan kebun kelapa sawit mendapat perhatian besar dengan dituangkannya Sejuta Hektar Kelapa Sawit dalam Kaltim Bangkit 2013 sebagai bentuk kesungguhan Gubernur Kalimantan Timur H. Awang Faroek Ishak memanfaatkan kekayaan potensi sumberdaya alam dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bagi segenap anggota masyarakat di Provinsi Kalimantan Timur.
Secara bertahap dan terencana, pembangunan kebun kelapa sawit melibatkan berbagai pihak para pelaku usaha termasuk para petani dengan kelompok taninya, Perkebunan Besar Milik Negara maupun Perusahaan Besar Milik Swasta, dan bahkan juga para Pegawai Negeri Sipil dan TNI POLRI yang tergabung didalam wadah Koperasi.
Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Kaltim dengan Ketuanya Ir. H. Irianto Lambrie, MM. menangkap peluang yang ada dengan menjalin kemitraan yang pertamakali dirintis dalam pembangunan kebun kelapa sawit bersama perusahaan perkebunan yang telah berkembang yaitu PT Karyanusa Eka Daya (Astra Agro Lestari Group). Pembangunan kebun kelapa sawit PKPRI Kaltim pertama kali di bangun di atas lahan yang berada dalam penguasaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terletak di Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur.
Diharapkan dengan adanya kebun kelapa sawit PKPRI ini nantinya dapat menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan bagi segenap pegawai yang menjadi anggotanya sehingga mendorong untuk lebih berprestasi dalam bekerja dan kian jauh dari perilaku korupsi yang tercela. Lebih dari itu, dengan semaraknya usaha yang tergabung dalam wadah koperasi, pada saatnya nanti dapat menjadikan Provinsi Kalimantan Timur sebagai Provinsi Koperasi.

B. RIWAYAT KEBUN
Lokasi kebun kelapa sawit kemitraan PKPRI Kaltim dengan PT Karyanusa Eka Daya dibangun di atas lahan seluas 500 hektar eks PTP VI terletak de Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, Kab. Kutim, semula di lokasi ini pernah dibangun kebun induk sebagai sumber bibit kelapa hybrida kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Jerman untuk mensuplay keperluan bibit dalam pembangunan kebun kelapa hybrida di Trans IV Muara Wahau.
Selain di tanam Kelapa Nias yang menjadi induk untuk Kelapa Hybrida, juga ada tanaman kelapa sawit, karet, cengkeh, kakao dan kopi. Kebun yang semula dibangun dengan nilai awal Rp. 286.159.96,12- pada tahun 1984 kemudian kurang terawat dengan tidak dilanjutkannya pengembangan kelapa hybrida di Muara Wahau sehingga mengalami penyusutan dengan nilai asset yang hanya tersisa sebesar Rp. 81.809.008,10 pada tahun 1994 yang kemudian diserahkan kepada Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 1995. Pemeliharaan kebun selanjutnya dilakukan dari tahun 1995 sampai dengan 1998 oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur dengan kegiatan Proyek Intensifikasi Perkebunan (APBD I). Pemeliharaan kebun ternyata kemudian tidak dapat berlanjut dan membuat tanaman cengkeh, kakao dan kopi mengalami kematian, sedangkan tanaman kelapa sawit dan karet tumbuh tidak terawat dan menjadi sarang oerganisme pengganggu tanaman.
Dorongan Gubernur Kalimantan Timur agar para pegawai ikut berpartisipasi mensukseskan pembangunan Sejuta Hektar Kelapa Sawit di Kaltim memunculkan ide Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur Dr. Ir. H.M. Nurdin, MT untuk mengirim surat usulan pemanfaatan lahan dalam penguasaan Pemrov Kaltim ini menjadi kebun bagi Pegawai. Respon positif dari Gubernur dituangkan dalam surat tertanggal 24 Februari 2010 nomor 525.33/1071/Disbun/2010 perihal Persetujuan pengelolaan eks kebun PTP VI di Desa Marah Haloq, Kab. Kutim kepada PKPRI Provinsi Kalimantan Timur untuk membangun kebun kelapa sawit.

C. TANAM PERDANA
Acara Tanam Perdana pembangunan kebun Kelapa Sawit PKPRI Kaltim dirangkai dalam Kunjungan Kerja Gubernur Kalimantan Timur beserta Rombongan ke Wilayah Utara pada hari Selasa tanggal 2 Maret 2010. Sebagai tindak lanjut dari acara tanam perdana maka akan dilakukan pekerjaan penanaman selanjutnya sampai dengan selesai di lokasi potensial ini, bersamaan dengan itu kesepakatan bentuk kerjasama dalam pembiayaan, pengelolaan kebun, sampai dengan pengolahan dan pemasaran produksinya akan diwujudkan dalam suatu surat perjanjian antara PKPRI Kaltim dan PT Karyanusa Eka Daya dengan penuh semangat kebersamaan bagi keuntungan kedua belah pihak.

D. PENUTUP
Upaya bersama dari segenap pihak untuk mewujudkan Sejuta Hektar Kelapa Sawit di Kaltim mempercepat tercapainya kesejahteraan rakyat. (http://azkun.blogspot.com)

Date 26/09/2009

By Kunarso

Subject IEDUL FITRI 1430 HIJRIYAH

Reply

Shalat Ied di Masjid Nurul Huda Loa Bakung:
JAMAAH YANG BERUNTUNG DAPAT BURUNG

SHALAT Iedul Fitri yang berlangsung di Masjid Jami’ Nurul Huda Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang Samarinda, Ahad 1 Syawwal 1430 Hijriyah bertepatan dengan 20 September 2009 Miladiyah dilaksanakan di bangunan baru yang masih belum selesai. Tak kurang dari 1250 jamaah yang hadir tampak gembira menggemakan takbir, tahlil dan tahmid sambil menyaksikan bangunan megah yang mereka idamkan bersama.
Laporan Badan Pengelola Masjid yang disampaikan oleh Sekretaris Umum Kunarso menyebutkan bahwa dana yang terkumpul dan digunakan untuk pembangunan masjid telah mencapai lebih dari satu milyard. Terkait dengan itu, disampaikan ucapan terimakasih kepada segenap jamaah dan dermawan yang telah berpartisipasi menginfaqkan sebagian hartanya untuk mendukung pembangunannya dan diharapkan partisipasi lebih lanjut agar bangunan masjid baru dapat diselesaikan. Bangunan masjid baru yang representatif tersebut dibangun untuk memenuhi aspirasi jamaah dan masyarakat untuk menggantikan masjid tua yang sejak lama berada di tebing sungai dan rawan longsor. Masjid baru yang dirancang mengikuti arsitektur modern masa kini, dibangun permanen berlantai dua dengan konstruksi beton bertulang, nantinya bisa jadi merupakan bangunan megah dan indah yang pertama kali terlihat jelas ketika memasuki Kota Samarinda melalui Jembatan Mahakam Ulu.
Drs. H.M. Husni Thamrin, Ketua Umum Badan Pengelola Masjid Jami’ Nurul Huda Loa Bakung yang bertindak sebagai khatib dalam khutbahnya dengan judul “Reorientasi Merayakan Iedul Fitri Berdasarkan Rangkaian Kalimat Takbir” berpesan agar tradisi penyambutan Iedul Fitri tidak terlalu jauh tenggelam dalam budaya materialistik yang menonjolkan kemewahan pakaian, kelezatan makanan dan minuman. Sebaliknya, perlu secara perlahan menggantikannya dengan budaya yang dapat memotivasi untuk meningkatkan takwa, yaitu meningkatkan nilai hidup, baik materi maupun immateri.
Khatib juga mengemukakan betapa pentingnya Dua Kalimat Syahadat sehingga Allah SWT mewajibkan kepada Ummat Muslim untuk mengucapkannya berulangkali dalam sehari semalam, untuk itu perlu memahami artinya.

JIHAD DALAM ISLAM
Menyikapi adanya berita yang marak akhir-akhir ini terkait dengan terjadinya pengeboman oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan mengatasnamakan jihad dan Islam, khatib menjelaskan bahwa Islam adalah agama Allah yang “Syumul” mencakup segala aspek dan semua bidang kehidupan. Jihad dalam arti berperang melawan orang kafir yang sedang memerangi kaum muslimin, hanyalah salah satu bagian dari ajaran Islam, masih banyak lagi ajaran Islam selain jihad.
Dijelaskan lebih lanjut, bahwa jihad dalam arti yang luas adalah mengerahkan segala tenaga, kesempatan dan kekuatan untuk mencapai sesuau tujuan, termasuk dalam pengertian ini adalah berperang melawan musuh (jihad/Qital), menuntut ilmu, mencari solusi mengatasi problema ummat (Ijtihad). mengerahkan segala upaya fisik, mental, perasaan dan estetika dalam mengolah rasa dan jiwa (bathin). Dengan jihad yang demikian diharapkan seorang muslim dapat terhindar dari penyakit bathin seperti riya, sombong, benci, dengki, iri dan berbagai sifat buruk lainnya.

PULANG BAWA BURUNG
Kejadian ini boleh jadi yang pertama di Samarinda, bahkan mungkin di Indonesia yaitu ketika khutbah sedang berlangsung, datang seekor burung perkutut menghampiri seorang jamaah wanita dan bertengger dipangkuannya. Entah apa yang dikehendaki oleh burung, yang jelas ketika burung tersebut ditangkap oleh jamaah wanita tempatnya bertengger, sama sekali tidak ada perlawanan untuk menghindar. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya, burung tersebut menunjukkan kegembiraannya saat dibawa pulang oleh wanita beruntung tersebut yang tidak lain adalah istri H.M. Husni Thamrin yang kebetulan menjadi Khatib Ied pagi itu.
Menyikapi adanya kejadian langka ini, HM Husni Thamrin (Ketua Umum) didampingi oleh Kunarso (Sekretaris Umum) Badan Pengelola Masjid Jami’ Nurul Huda berpesan agar tidak salah menafsirkan, walaupun ini suatu kejadian langka adalah merupakan suatu kejadian yang tidak mustahil dapat terjadi lagi lain kali, kapan jasa dan di mana saja. InsyaAllah.
Info lengkap buka: http://azkun.blogspot.com

Date 28/07/2009

By eNeS

Subject Salam Kenal

Reply

Assalaamu 'alaikum sobat... Lagi blog walking nih. Salam kenal aja dari aku.

http://ruangsc.blogspot.com

Date 06/05/2009

By http://kualatungkalboy.blogspot.com/

Subject friendship

Reply

hi... I like here friend

Date 26/03/2009

By Owner Karbazon's Blog

Subject Konfirmasi tukaran Link

Reply

Sebelumnya saya ucapkan Salam kenal dan terima kasih sudah bersedia bertukar Link dengan saya dan sudah memasang Banner Blog saya disini. Banner Link anda sudah juga saya pasang di Blog saya.

Terima kasih

Date 20/02/2009

By Kunarso

Subject OPINI

Reply

KANDUNGAN CERITA HONOCOROKO

(Penjaga dan Pembawa Pesan yang Menjadi Korban)
Oleh : Kunarso *)

KANDUNGAN cerita dalam kaitan nama Aksara Jawa yang sering disebut sebagai “HONOCOROKO”, memiliki makna yang bernilai tinggi, mengingatkan kita semua untuk selalu membangun dan memelihara komunikasi agar terhindar dari salah persepsi dalam memberi, menjaga dan membawa pesan sehingga dapat dicegah dan dihindari adanya pertengkaran dan permusuhan yang dapat merugikan berbagai pihak.
Nama Honocoroko sendiri diambil dari baris pertama dalam deretan Aksara Jawa, yang lengkapnya adalah sebagai berikut :

HO NO CO RO KO
DO TO SO WO LO
PO DHO JO YO NYO
MO GO BO TO NGO

Dua puluh Aksara Jawa yang tersusun dalam empat baris itu dalam sejarahnya memiliki muatan cerita :

Ono Caroko = ada utusan (abdi setia)
Doto Sawolo = saling berseteru
Podho Joyonyo = sama-sama sakti
Mogo Bothongo=Keduanya jadi bangkai

Dalam cerita, adalah seorang Satria namanya Ajisaka yang tinggal di sebuah pulau terpencil bersama dua orang abdi setianya, yaitu Dora dan Sembodo. Pada suatu hari Ajisaka bertekad untuk memperbaiki hidupnya dengan hijrah pergi ke ibukota kerajaan. Dora diajak ikut, sedangkan Sembodo tetap ditinggal di pulau dengan dititipi sebuah keris. Ajisaka berpesan agar keris tersebut dijaga dan disimpan, jangan sampai diberikan kepada orang lain. Sebagai abdi yang setia, maka pesan itupun diterima dan disanggupinya dengan tekad akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Kemudian setelah sekian lama, berbagai liku-liku perjalanan hidup dilaluinya, Ajisaka sukses menjadi Raja. Ketika itu, Ajisaka memerasa perlu untuk mengambil kerisnya, maka diutuslah Dora untuk menemui Sembodo guna meminta kembali keris yang dititipkan.Apa yang terjadi kemudian, sungguh diluar dugaan, kedua abdi yang setia, thaat dan sangat hormat itu merasa berada pada posisi yang berseberangan. Masing-masing abdi tidak ingin melanggar dan mengabaikan pesan Ajisaka. Sulitnya, kondisi pada saat itu tidak memungkinkan untuk berkomunikasi kembali sehingga masing-masing tetap berpegang teguh pada pesan awal yang diterimanya.Ketika Dora datang menyampaikan pesan Ajisaka yang mengutusnya untuk mengambil keris, maka Sembodo tidak mau menyerahkan keris tersebut. Sikap ini adalah sesuai dengan pesan yang diterima sebelumnya. Kedua Abdi setia itupun saling bersikukuh melaksanakan pesan Ajisaka, yang satu tidak mau memberikan keris yang dititipkan Ajisaka kepadanya, sementara itu yang satu lagi bertekat tidak akan kembali kepada Ajisaka yang kini menjadi Raja sebelum keris dibawa serta.Pertengkaranpun terjadi tak terhindarkan lagi. Kedua abdi saling memperebutkan keris dengan mengeluarkan tenaga, kemampuan dan kesaktian yang dimilikinya untuk merebut dan membela diri. Kekuatan keduanya berimbang, tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya keduanyapun jadi korban, tewas menjadi bangkai tertusuk keris.

Adapun pelajaran berharga dari cerita yang penuh makna itu adalah betapa penting dan perlunya membangun serta memelihara komunikasi antar berbagai pihak sejak dini secara rutin maupun berkala, terus-menerus dan tidak terhenti.Lebih-lebih pada era modern seperti sekarang ini, ketika alat komonikasi sudah semakin canggih dan hampir tak terhalangi, sungguh amat sayang jika masih ada pihak yang belum paham, tidak mengerti dan tidak mau belajar teknologi informasi.

Penegakan disiplin kehadiran pegawai yang belakangan ini menggunakan alat deteksi sidik jari sebagai perekam data kehadiran pegawai, tidak mustahil pada saatnya nanti dapat menimbulkan perbedaan persepsi. Apalagi jika petugas yang menangani kurang memahami makna hakiki dari penggunaan alat pendeteksi yang masih perlu dikonformasi dengan fakta sebenarnya yang terjadi. Bisa jadi, ada pegawai yang pada suatu hari sudah hadir dan bekerja tetapi karena sesuatu hal baik karena lupa atau karena ada hal lain tidak atau terlambat menempelkan jari. Jika hanya mengandalkan data mati dan tidak disertai komunikasi, maka keputusan salah akan dapat terjadi, yaitu memotong uang insentif pegawai yang dianggapnya mangkir atau terlambat tidak permisi.

Begitu pula, ketika Gubernur Kaltim menaruh perhatian besar dalam penegakkan hukum berkaitan dengan pemberantasan korupsi, bersamaan dengan itu juga menghendaki adanya suasana kondusif bagi pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka dibentuklah KORMONEV (Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi). Wakil Gubernur sebagai ketua Kormonev dengan beberapa anggotanya bertugas untuk mengawasi, mencermati, meneliti, mendalami semua laporan yang masuk terkait korupsi. Laporan akan dievaluasi, jika memang ada bukti kuat maka akan ditindak lanjuti. Apabila terbatas pada administrasi akan ditindak lanjuti Bawasprov, sedangkan yang memang benar ada tindak pidana maka ditindak lanjuti oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan atau KPK. Gubernur berpesan agar pegawai yang dipanggil KPK, Kejaksaan atau Polisi mendapatkan ijin dari Gubernur. Yang diperlukan kemudian adalah kejelasan aturan agar tidak terjadi salah persepsi bagi aparat pelaksananya. Intinya, komunikasi perlu diperjelas, terus berlanjut, tidak terhenti.

InsyaAllah dengan komunikasi yang terus berlanjut dipelihara dan diperbaharui, dapat dicegah jatuhnya korban yang merugikan berbagai pihak, baik pemberi, penjaga, penerima dan pembawa pesan, termasuk aparat penegak hukum yang mendapat pesan dan bertugas mengamankan pelaksanaan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

*) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur. http://loabakungceria.blogspot.com